Wednesday, May 30, 2007

Gudeg Yogya “Bu Hj Wakidi”

Jogjakarta selain terkenal dengan tempat-tempat wisata dan budayanya, juga terkenal dengan makanan-makanan tradisionalnya. Salah satu makanan tradisonal khas Jogya adalah gudeg. Penjual gudeg juga bisa ditemukan di kota lain, tapi gudeg Jogja mempunyai cita rasa yang khas dan berbeda dengan gudeg yang ada di daerah lain. Gudeg Jogja punya rasa manis yang khas. Makanan tradisional yang manis ini juga menjadi trade mark kota Jogja. Begitu terkenalnya gudeg sebagai makanan khas Jogja, sampai-sampai Jogja terkenal juga dengan nama lain ‘Kota Gudeg’.

Salah satu tempat yang menjadi icon Yogyakarta sebagai “Kota Gudeg” adalah gudeg ‘Bu Hj Wakidi” yang terletak di Jln Monumen Yogya Kembali, Km1. Gemawang Rt02/Rt43 No 31, Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogayakrta. Sebuah tempat yang berjarak sekitar 1 km dari Monumen Yogya Kembali ke aras selatan, atau sekitar 3 km dari Tugu kearah utara.

Sejarah lahirnya gudeg “Bu Hj Wakidi”

Munculnya usaha gudeg ini sebagai pemain baru dalam “dunia pergudegan” di Yogyakara diawali pada sekitar Tahun 1950 an. Diawali dari usaha mencari tambahan penghasilan, Wiryosentono (Alm) beserta sang istri kemudian memulai membuka usaha jualan gudeg di sebuah kampung bernama Kragilan, suatu wilayah pedusunan yang berada didesa Sinduadi, Mlati, Sleman, Yk. Dari sinilah cikal bakal usaha gudeg dimulai. Dengan keterbatasan yang ada, usaha ini mampu menopang kehidupan keluarga hingga dapat membesarkan ke tiga anaknya, disamping bekerja sebagai petani dan peternak sapi sebagai mata pencaharian yang umum dilakukan pada waktu itu. Setelah ketiga anaknya menginjak dewasa dan telah menikah, maka usaha ini dilanjukan oleh anaknya yang pertama.
Adalah Daliyah sebagai penerus usaha ini Setelah menikah usaha gudeg yang semula hanya dijual di tempat(dirumah), maka kemudian dimulailah penjualan keluar. Saat itu tempat yang dirasa representative adalah Jln mangkubumi, sebagai lokasi yang dekat dengan kraton Ngayojokarto Hadiningrat sebagai pusat keramaian.
Dengan alat transportasi berupa sepeda, sepasang suami istri ini menggelar dagangan gudeg di emperan sebuah rumah (barat kantor Kedaulaan Rakyat). Beberapa tahun kemudian alat transportasi diganti dengan becak, yaitu dengan menyewa becak dari tetangga karena barang bawaan yang semakin banyak. Pada suatu ketika ditahun 1970 an, keluarga ini berpindah rumah ke Gemawang (rumah Bp Wakidi), suatu dusun yangjuga masih satu kelurahan dengan Kragilan.
Kepindahan keluarga ke Gemawang tetap menjalankan usaha gudeg ini. Dengan dukungan dari Harjosentono ( Bpk nya Bp Wakidi) usaha gudeg dijalankan dengan menggunakan sepeda motor sebagai alat transportasi menuju kelokasi. Seiring perjalanan waktu, dan semakin berkembangnya usaha ini, kemudian alat transportasi menggunakan mobil, yang merupakan hasil jerih payah selama ini.
Berkembangnya usaha ini sejalan dengan semakin ramainya jln Mangkubumi karena banyaknya pedagang kaki5 yang juga ikut menjajakan dagangannya disana, semakin banyak pula pelanggannya, mulai dari masyarakat umum, mahasiswa, pegawai maupun pejabat. Dari sinilah kemudian para pelanggan memberikan julukan/ nama yang disesuaikan dengan lokasi berjualan. Sering disebut sebagai “Gudeg KR” karena letak penjualannya yang persis berada di depan gedung Kedaulatan Rakyat (KR) . Adapula yang menamai dengan” Gudeg Mangkubumi’ karena tempat jualannya di jln Mangkubumi, juga disebut “Gudeg Rama”, karena lokasi berjualan yang persis berada didepan restoran Rama, pernah pula disebut sebagai “Gudeg Obong”, karena dekat dengan sebuah rumah yang dahulu pernah kebakaran . Yang menarik bagi setiap orang adalah waktu berjualan yang hanya 1 jam ( dari jam 17.00 sampai jam 18.00 sore) membuat pelanggan harus bergegas untuk antri, sebab takut tidak kebagian.
Hingga pada akhirnya karena terjadi intidasi sesama pedagang kaki5 (Klitikan)karena perebutan lahan yang mengharuskan untuk mengalah ,maka sekitar th 2002 usaha penjualan gudeg dilakukan dirumah (Gemawang).
Ternyata kepindahan lokasi juga diikuti oleh para pelanggan setia yang tetap mencari keberadaan gudeg ini walaupun harus mencari informasi dari bapak satpam dan pedagang kaki 5 yang masih bertahan disana tentang kepindahan gudeg ini. Walaupun disuatu rumah yang jauh dari kesan rumah makan karena tidak ada tempat untuk makan yang representative. Hal ini juga tidak lepas dari kebiasaan pelanggan yang hanya memesan utuk dibawa pulang tidak dimakan ditempat. Para pelanggan tidak ditempatkan disuatu tempat untuk duduk melainkan langsung menuju kedapur (pawon). Dari sinilah maka kemudian muncul istilah “gudeg Pawon”, dikarenakan pelanggan langsung berada di dapur/ pawon untuk memesan. Disamping itu, ikarenakan lokasinya yang berada di Jln Monumen Yogya Kembali (monjali) inilah maka kemudian para pelanggan menyebutnya sebagai “Gudeg Jl Monjali”, namun ada pula yang menyebut sesuai dengan nama pemiliknya “gudeg Bu Hj Wakidi”.
Untuk kedepan pemikiran untuk mengembangkan gudeg ini menjadi lebih baik telah dipikirkan dan mulai dirintis oleh Sigit HandokoSHI,SH, anak satu-satunya, calon generasi ke III yang akan melestarikan kuliner khas Yogyakarta ini dengan format modern. Insyaallah.

Keunikan-keunikan

Gudeg Bu Hj wakidi dinilai banyak orang memiliki keunikan tersendiri bila dibandingkan dengan Rumah Makan bermenukan gudeg lainnya. Keunikan2 tersebut setidaknya dapat dilihat dari:
1. Lokasi
Untuk saat ini rumah makan gudeg ini terletak di Jln Monumen Yogya Kembali, Km1. Gemawang Rt02/Rt43 No 31, Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogayakarta. Lokasinya tidak berada ditepi jalan besar/aspal, meliainkan masuk dalam gang sekitar 300 m dari jalan Monjali. Bukan merupakan lokasi yang ideal sebenarnya untuk sebuah rumah makan, namun ternaya lakosi yang tidak ideal ini tidak membuat para penikmat gudeg untuk enggan menghampirinya.
2. Bangunan
Suatu bangunan yang sebenarnya tidak mirip samasekali dengan sebuat rumah makan. Disamping tidak tersedianya perabotan khas rumah makan juga tidak ada papan nama/balihoi sebagai penunjuk. Orang yawam yang belum pernah mencicipi gudeg disini pasti akan kaget dan tidak menduga bahwa rumah sederhana seperti ini merupakan rumah makan gudeg.

3. Alat masak
Dengan masih menggunakan peralatan tradisional berupa “keren”, proses memasak dilakukan . Terdapat lebih dari 10 buah keren yang berjajar besar kecil sesuai dengan fungsinya masing.Peralatan yang digunakan dalam proses memasak pun juga masih tradisional, yaitu sotil, irik dan kalo yang selalu difungsikan.

4.Bahan Bakar
Sebagaimana umumnya rumah makan yang ada dalam proses masak tentunnya menggunakan api yang berasal dari kompor, baik kompor minyak maupun gas. Namun lain halnya dengan rumah makan ini, dengan menggunakan kayu bakar proses masak dilakukan. Ternyata sama-sama api yang keluar namun dengan bahan kayu bakar juga mempengaruhi rasa.

5.Lebih banyak melayani pesanan
Hal ini yang juga sangat membedakan dengan rumah makan lainnya, yaitu menu yang disediakan hampir 100 % adalah psudah merupakan pesanan. Jadi sangat jarang menyediakan menu untuk disantap ditempat. Untuk itu maka para pelanggan yang menginginkan gudeg ini harus memesan terlebih dahulu melalui telphon dua hari sebelumnya.

6. Menu inofatif
Mungkin merupakan hal yang baru bagi orang awam apa itu “telo areh”. Ternyata telo areh adalah sajian berupa telo/ ketela pohon yang dimasak dengan dicampur areh. Hasinnya adalah “telo areh” demikian para pelanggan menyebutnya. Selain itu ada pula “untir-untir usus areh”, yaitu menu yang terbuat dari usus yang dibentuk menyerupai untir-untir, kemudian dimasak dengan areh.

7. Rasa
Untuk rasa mungkin gudeg ini merupakan satu-satunya gudeg yang memiliki ciri khas tersendiri, demikian komentar orang. Rasa yang berbeda karena diolah dengan alat yang berbeda dan orang yang berbeda pula menjadikan gudeg ini tidak dapat dilupakan begitu saja bagi orang yang pernah mencicipinya.

Lokasi
Bagi para pelanggan baik dalam maupun luar kota, lokasi gudeg “Bu Hj Wakidi” mudah untuk dicari karena terletak dilokasi yang mudah dijangkau, yaitu Jln Monumen Yogya Kembali (MONJALI) km 1 depan Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) TIRTA MARTA. Dusun Gemawang, Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta.
Bagi yang belum tahu alamat ini asal sudah tahu Monumen Yogya Kembali ( perempatan Ring Road Utara) keselatan 1 km, dan silahkan bertanya kepada penduduk setemat. Kalau dari selatan (Kraton atau Tugu ) langsung aja ke utara kurang lebih 3 km, dan silahkan Tanya letak PDAM TIRTA MARTA, maka anda tinggak masuk gang ke barat 200 meter, sampai deh

Pemesanan
Dikarenakan banyaknya pelanggan yang datang untuk mengambil pesanan, maka alangkah baiknya bagi anda yang menginginkan gudeg “Bu Hj Wakidi” untuk memesan terlebih dahulu ke nomor (0474) 624 894 dua hari sebelumnya. Hal ini untuk menghindari “kecele” karena dapat dipastikan gudeg sudah dipesan orang.

Menu
Sebagai rumah makan yang khas gudeg, maka gudeg merupakan menu utama, disamping ada daging ayam kampong (kepala, menthok, gending, sayap, paha, rempelo ati, usus, dll), sambal krecek, . Bagi anda dipersilahkan untuk pemesanan bisa berupa nasi Dos, gudeg Besek, Kendil.
Gudeg “Bu Hj Wakidi” melayani pemesanan untuk partai besar maupun kecil. Bahkan sering pula Catering yang ada di Jogja bila mendapatkan pesanan menu gudeg kemudian dipesankan disini. Bu Hj wakidi juga sering diminta melayani untuk cateringan di suatu acara.

Harga
Untuk harga para pelanggan menyatakan bahwa “gudeg Bu Hj Wakidi” merupakan gudeg termurah dan terenak yang ada di Jogja untuk saat ini. Untuk membuktikannya silahkan anda survey dari semua rumah makan gudeg yang ada di Jogja mulaidari yang kecil hingga yang besar dan terkenal.

Opsesi si anak
Adalah Sigit Handoko SHI,SH anak dari Bu Hj Wakidi, selaku regenerasi penerus usaha gudeg Jogja memiliki obsesi luar biasa hebat namun terkendala pada masalah dana. Obsesi tersebut yaitu mewujudkan suatu rumah makan khas menu Gudeg yang komprehensif, dalam arti didukung dengan fasilitas- fasilitas yang memadai. Adapun fasilitas tersebut adalah:
1. Tersedianya rumah makan dengan bangunan permanen yang terpisah dengan bangunan keluarga, yang mampu menampung setidaknya 100 arang, dan didukung dengan peralatan yang memadai ( meja, kursi, hiburan,dll).
2. Tersedianya lokasi parkir yang luas
3. Adanya supermarket, karena palanggan kebanyakan dari luar kota, maka membutuhkan bekal perjalanan. Untuk itulah fungsi supermarket ini perlu ada.
4. Adanya Gedung serbaguna, yang berfungsi untuk semua kegiatan yang bersifat menghadirkan orang banyak pada suatu acara ( missal: pernikahan, ulang tahun, dll) juga sebagai sarana ola raga ( basket, bulu tangkis).
5. Musholla sebagai tempat ibadah
6. Kolam yang luas, yang berfungsi sebagai sarana rekreasi dan pemancingan.dll

Dengan obsesi ini, maka sisi positif yang dapat diraih diantaranya:
1. Mampu menampung tenaga kerja setidaknya 20 orang ( Pelayan: 10, Juru masak: 4, pelayan supermarket : 2, parkir: 4 orang), maka dapat dibayangkan berapa keluarga yang juga ikut merasakan manfaatnya.
2. Mengukuhkan Jogjakarta sebagai kota gudeg, karena adanya lokasi yang representative bagi orang diluar Jogja dalam mencari menu gudeg.
3. Membawa kemanfaatan bagi semua.

Namun demikian, dalam realisasinya mengalami permasalahan dalam hal pendaan, karena astimas dana yang dibutuhkan mencapai 5 M (Lima Milyar Rupiah). Secara garis besar dana tersebut dialokasikan untuk:
1. Pembelian tanah seluas 3000 meter, Dengan estimasi harga Rp 1.000.000/m2, maka dana yang dialokasikan sebesar Rp 3 M.
2. Pembangunan bangunan ( rumah makan, supermarket, gedung, kolam) dengan estimasi luas 2.000 m2 dan biaya 1.000.000/m2, maka dana yang dialokasikan adalah Rp 2 M

Kami menunggu bantuan anda
Kami mengajukan permohonan kerjasama secara terbuka berupa peminjaman modal dengan fee (bunga) yang rendah/lunak bagi semua pihak yang memiliki kepedulian bagi pelestariankuliner khas Jogja ini dan memiliki kepekaan social untuk membantu sesama. Modal yang saya butuhkan adalah sebesar Rp 5 M, dengan masa peminjaman 5 tahun.
Sebagai bentuk pertanggungjawaban baik secara moral maupun financial maka:
1. Kami akan memberikan fee(bunga) sesuai dengan kesepakatan
2. Anggunan berupa:
a. Sertifikat rumah 2 lt di jln Monjali, Karang Jati, dengan estimasi harga jual Rp 800.000.000
b. 2 Sertifikat tanah seluas 1750 m2, dengan estimasi harga jual Rp 612.500.000
c. Surat-surat berharga lainnya yang belum dapat diestimasikan.

Demikian sedikit gambaran singkat tentang obsesi si anak. Bagi anda yang berminat, akan kami berikan penjelasan lebih mendetail dan komprehensif. Untuk itu kami tunggu respon positif anda yang memiliki dana berlebih dan kepedulian bagi kemakmuran bersama.
Silahkan hubungi kami di (0274) 624 962, 081 229 61304, atau handoko007@yahoo.com